G20 dan Diplomasi Mangrove

Lukas Benevides

Lukas Benevides

Persiapan hingga perhelatan G20 di Bali diperkirakan menghabiskan miliaran rupiah. Kementerian PUPR mengeluarkan anggaran Rp505 miliar untuk membenahi berbagai infrastruktur (ekonomi.bisnis.com, 10/11/2022). Belum ditambah pengeluaran lain.

Meskipun demikian, pertemuan puncak G20 15-16 November 2022 tersebut tak pelak mendatangkan keuntungan berlipat ganda secara langsung dan tidak langsung dari berbagai sudut. Kontribusi G20 diperkirakan mencapai US$ 533 juta atau sekitar Rp7,4 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2022 (CNBC Indonesia.com, 13/11/2022).

Keuntungan finansial di atas belum mencakup manfaat lain yang dihasilkan Indonesia karena keberhasilan menjalakan presidensi G20 per November 2021-November 2022. Apa saja keuntungan yang diperoleh Indonesia melalui forum ekonomi G20?

 

Kapital KTT G20

Ide dasar kebermanfaatan secara holistik direpresentasi oleh terminologi kapital. Konsep kapital berasal dari sosiolog Pierre Bourdieu. Ia memperkenalkan empat jenis kapital: ekonomi, budaya, sosial, dan simbolik (Bourdieu, 1988). Kapital ekonomi mencakup sarana produksi dan sarana finansial. Keuntungan ekonomi triliunan rupiah yang diraih Indonesia adalah kapital ekonomi.

Kapital budaya mengejawantah melalui pengetahuan, kode budaya, atau cara bergaul yang berperan dalam penentuan kedudukan sosial. Hampir semua rangkaian acara G20 Bali mempertontonkan atribut budaya khas Indonesia. Para pemimpin negara peserta ikut tersihir. Baju Batik yang dipakai beberapa kepala negara memikat mata masyarakat global. Ini bukan sekadar fashion show, tetapi panggung Indonesia menunjukkan kekayaan material dan immaterial yang tentu saja memiliki potensi investasi.

Kapital sosial berupa kerja sama yang melahirkan kepercayaan dan pengakuan timbal-balik. Kapital sosial diperoleh melalui kesuksesan KTT G20 Bali merealisasikan agenda-agenda penting seperti pandemic fund yang terkumpul 1,5 miliar dolar AS, pembentukan dan operasionalisasi resilient and sustainability trust di bawah IMF sejumlah 81,6 miliar dolar AS untuk membantu negara-negara yang menghadapi krisis. Ada pula energy transition mechanism yang langsung menyumbangkan 20 miliar dolar AS untuk Indonesia. Tidak hanya itu, Indonesia berhasil mendapatkan kerja sama ekonomi dan politik keamanan dengan beberapa negara.

Kapital simbolik adalah suatu bentuk pengakuan sosial entah terlembagakan entah tidak yang sangat berperan di dalam komunikasi sosio-politik (Haryatmoko, 2020). Di antara keempat bentuk, kapital simbolik paling menguntungkan karena dapat dikonversi menjadi apapun. Keberhasilan Indonesia dipuji para petinggi negara-negara anggota G20 yang hadir. Presiden Amerika Joe Biden tak tanggung-tanggung langsung mengatakan kepada Presiden Jokowi, “you have done a tremendous job… a great job” dalam pidatonya (15/11).

 

Diplomasi Mangrove

Yang paling simbolik adalah diplomasi mangrove. Sebagai negara dengan hutan mangrove terluas di dunia, 3,3 juta hektar, mangrove menjadi kapital simbolik penting. Presiden Jokowi menjanjikan rehabilitasi hutan mangrove 600 hektar sampai 2024 pada puncak KTT G20 di Italia tahun lalu. Maka, KTT G20 di Bali mengagendakan kunjungan dan penanaman bibit mangrove di Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai di Denpasar (15/11). Agenda ini mendapat tanggapan positif. Namun kesuksesan agenda ini tidak terletak pada ritual penanaman, melainkan diplomasi politik mangrove.

KTT G20 secara ofisial adalah forum Ekonomi. Presiden Jokowi menegaskan sendiri branding ini di pada salah satu sesi, “G20 adalah forum ekonomi… Jangan ditarik-tarik ke politik”. Namun secara substansial, mustahil untuk berbicara transaksi ekonomi tanpa bumbu-bumbu politik. Bahkan takaran jual-beli sayur-sayur di pasar tidak terlepas dari keputusan politik, bagaimana mungkin Pandemic Fund atau Energy Transition Mechanism yang melibatkan transaksi miliaran dolar tanpa komitmen dan keputusan politik.

Di dalam konsep governmentality, Michel Foucault mengatakan modus operandi kekuasaan semakin efektif justru ketika semakin implisit sehingga korban tidak sadar. Korban bahkan menerima sebagai keputusan bebasnya (Foucault, 1992). Melalui komoditas politik mangrove, Presiden Jokowi sebenarnya sedang menyandera para petinggi negara maju untuk mengakui komitmen Indonesia mengurangi energi batu bara ke energi hijau atau baru-terbarukan.

Komitmen energi baru-terbarukan hanyalah satu langkah. Target besar agenda KTT G20 bagi Presiden Jokowi sebenarnya untuk menunjukkan bahwa Indonesia “walk the talk”. Karena itu, jangan ragu untuk percaya Indonesia, bekerja sama dan berinvestasi di Indonesia.

Intrik politik simbolisme paling tricky. Semakin simbolik sesuatu, justru semakin sulit ditafsir dan dipenjara maknanya. Karena sulit ditangkap maknanya, agenda politik mudah lolos. Berbagai keuntungan di atas menunjukkan dengan jelas bahwa KTT G20 bukan cuma hiburan dan hambur-hambur uang. Indonesia sedang menunjukkan dirinya sebagai katalis dan episentrum pertumbuhan global. Presiden Jokowi mengkonversi KTT G20 menjadi kapital Indonesia.

WhatsApp
Facebook
Twitter